
Jathilan, juga dikenal sebagai kuda lumping, kuda kepang, atau jaran kepang, adalah seni pertunjukan tradisional jawa yang menggabungkan unsur tari dan magis, dengan properti berupa tiduran kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Kesenian ini dikenal di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Asal Usul dan Makna:
- Jathilan diyakini berasal dari ungkapan bahasa Jawa “jaranne jan thil-thillan tenan”, yang berarti “kudanya benar-benar menari tak beraturan”, merujuk pada gerakan para penari saat kerasukan.
- Secara tradisional, jathilan menggambarkan prajurit berkuda yang sedang berlatih, dengan gerakan-gerakan yang menunjukkan ketangkasan dan semangat para penari.
- Kesenian ini juga memiliki makna simbolis, di mana tarian dan gerakan penari yang kerasukan (ndadi) diyakini memiliki kekuatan magis, seperti menolak bala atau menyembuhkan.
Unsur Pertunjukan:
-
Kuda Tiruan:
Properti utama jathilan adalah kuda lumping, kuda kepang, atau jaran kepang yang terbuat dari anyaman bambu.
-
Penari:
Penari jathilan, baik laki-laki maupun perempuan, mengenakan kostum prajurit berkuda dan menari dengan penuh semangat.
-
Pawang:
Seorang pawang memiliki peran penting dalam mengendalikan jalannya pertunjukan dan membantu penari yang kerasukan.
-
Gamelan:
Gamelan digunakan sebagai pengiring musik dalam pertunjukan jathilan.
-
Kekuatan Magis:
Beberapa penari dapat melakukan atraksi berbahaya saat kerasukan, seperti memakan beling atau benda tajam lainnya.
Perkembangan dan Jenis:
- Jathilan telah mengalami perkembangan dan modifikasi, dengan beberapa jenis yang dikenal, seperti jathilan pakem (tradisional) dan jathilan kreasi baru.
- Jathilan juga menjadi bagian dari warisan budaya takbenda Indonesia, khususnya di Yogyakarta.
Tujuan Pertunjukan:
- Jathilan bertujuan untuk menghibur, melestarikan budaya, dan menyampaikan pesan-pesan moral melalui gerakan dan cerita yang ditampilkan.
- Kesenian ini juga berfungsi sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat dan menolak segala bentuk penindasan.
Beberapa grup jathilan di Ambarketawang:
- Gagak Rimang (Mejing Lor)
- Turonggo Bekso (Mejing Lor)
- Turonggo Bekso (Mejing Wetan)
- Bendhe Mataram (Mejing Kidul)
- Kudho Praneso (Gampign Tengah)
- Turonggo Mudho (Gamping Kidul)
- Warok Satrio Mudho (Kalimanjung)
- Tresno Budoyo (Mancasan)
- Kencono Anom (Watulangkah)