1. KiWirosuto dan Nyi Wirosuto (Gamping Tengah)

(Petilasan Gunung Gamping dan upacara adat Saparan Bekakak)
Kisah seorang abdi dalem Ki Wirosuto dan istrinya Nyi Wirosuto yang setia kepada Pangeran Mangkubumi (HB I). Mereka meninggal tertimpa reruntuhan pada saat penambangan batu gamping pada bulan Sapar. Jenazah keduanya tidak pernah ditemukan. Sejak saat itulah warga percaya bahwa dengan kejadian tersebut harus dibuat upacara adat untuk tolak bala dan menghormati jasa-jasa abdi dalem tersebut. Upacara adat tersebut adalah menyembelih sepasang boneka pengantin yang terbuat dari ketan dan gula merah, yang dikenal dengan upacara adat Saparan Bekakak.

2. Petilasan Kraton Ambarketawang (Tlogo)

Bangunan yang didirikan oleh Sri Sultan HB I sebagai tempat untuk mesanggrah/singgah sementara sambil menunggu dibangunnya keraton Yogyakarta. Sultan HB I menempati pesanggrahan Ambarketawang pada 1681-1682 bersama abdi dalemnya.

3. Kyai Dullah Pawirorono (Mejing Kidul)

Bangunan makam bercungkup, berisi 3 makam kuno yang diyakini adalah makam Kyai Dullah, anak, dan kudanya yang gugur pada masa perang Diponegoro.

4. Sendang Sinongko (Macasan)
Berupa sendang yang menurut cerita merupakan petilasan Raden Bondan Kejawan. Terdapat sendang wedok dan senang lanang, dan terdapat makam Raden Bondan Kejawan. Sendang ini sering digunakan untuk tirakat bagi orang-orang yang mempunyai hajat.

5. Monumen Watulangkah (Watulangkah)

Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa-jasa masyarakat di dusun Plempoh, Watulangkah, karena di tempat ini pernah dipakai sebagai dapur umumdan markas Stafkwartier Sub Wehrkreise (SWK) 103 di bawah pimpinan Letkol. Soehoed dari tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Pada peristiwa pertempuran di Watulangkah, telah gugur 41 pejuang.

6. Asal-usul padukuhan Watulangkah (Petilasan Walikukun)
Mbah Gembleb adalah sebutan roh leluhur yang tinggal di Ambarketawang sisi selatan. Suatu ketika wilayah ini dilanda kekeringan dan untuk mengatasinya, Raden Panji mendapat petunjuk untuk memerangi dan mengalahkan Mbah Gembleb supaya kekeringan bisa dihentikan. Mbah Gembleb memberikan syarat yaitu apabila Raden Panji bisa melangkahi batu tinggi yang ada lokasi, maka Raden Panji akan menang. Akhirnya dengan menaiki kudanya, Raden Panji dapat melangkahi batu tersebut dan tempat itu diberi nama Watulangkah. Adapun batu yang dilangkahi itu masih ada hingga kini dan diberi nama petilasan Walikukun.

7. Sumur Gong (Macasan)
Sumur kuno berbentuk bulat di tengah bulak yang dipercaya pernah digunakan Raden Panji untuk singgah sementara dan mengambil mata airnya.

8. Makam Puncak Kanigoro (Macasan)

Puncak Kanigoro berisi makam dan sebuah tiang bendera yang biasanya digunakan untuk upacara hari kemerdekaan, karena dulu rakyat yang gugur waktu penjajahan sebagian dimakamkan di puncak Kanigoro. Semua calon raja Yogyakarta sebelum naik tahta selalu melakukan tirakat di sini untuk mengambil Kuluk Kanigoro yaitu mahkota kepemimpinan sejati. Tirakat dilakukan sesuai weton masing-masing. Tempat ini dipercaya memiliki keraton ghaib yang dijaga oleh Ki Wirasaba dan dikuasai oleh Raden Nganten Mertoijoyo.

9. Tugu pengetan Sultan HB IX (Gamping Kidul)
Tugu pengetan menurut cerita adalah pemberian Sultan HB IX untuk masyarakat Ambarketawang pada saat beliau naik tahta.

10. Monumen Prau Layar/Perahu Layar (Mejing Lor)
Monumen Perahu Layar memiliki filosofi Kehidupan manusia diibaratkan seperti perahu layar yang berlayar di lautan Indonesia, manusia menempuh banyak rintangan dalam kehidupan bernegara. Agar lulus dari rintangan hidup bernegara dan memperoleh kehidupan di Indonesia yang ayem tentrem, maka semua warga negara Indonesia
khususnya warga Mejing harus berpegang teguh pada Dasar Negara Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

11. Monumen Bambu Runcing (Bodeh)

Monumen bambu runcing untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur di wilayah Ambarketawang.