{"id":362,"date":"2019-12-17T12:34:50","date_gmt":"2019-12-17T12:34:50","guid":{"rendered":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/first\/artikel\/40"},"modified":"2019-12-17T12:34:50","modified_gmt":"2019-12-17T12:34:50","slug":"sejarah-desa-ambarketawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/2019\/12\/17\/sejarah-desa-ambarketawang\/","title":{"rendered":"Sejarah Desa Ambarketawang"},"content":{"rendered":"<p><strong>SEJARAH SINGKAT DESA AMBARKETAWANG<\/strong><\/p>\n<p>Pada masa kerajaan Mataram dengan adanya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 antara Sinuwun Pakubuwono III , Pangeran Mangkubumi dan VOC\/Belanda , yang mengakibatkan Kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 kerajaan yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Kasunanan Surakarta ( yang wilayahnya meliputi Kerajaan Mataram bagian timur ) diserahkan kepada Sinuwun Pakubuwono III .<\/li>\n<li>Kasultanan Ngayogyakarta ( yang wilayahnya meliputi Kerajaan Mataram bagian barat ) diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan diserahkannya Kerajaan Mataram bagian barat&nbsp; ( Kasultanan Ngayogyakarta ) kepada Pangeran Mangkubumi dan karena Pangeran Mangkubumi belum mempunyai kraton sebagai pusat pemerintahan, maka pada tanggal 9 Oktober 1755 memerintahkan kepada Adipati Jayaningrat untuk membuat pesanggrahan \/ kraton sementara di suatu tempat yang dinamakan Ambarketawang.<\/p>\n<p>Dari Pesanggrahan Ambarketawang inilah Pangeran menjalankan pemerintahannya dan memerintahkan untuk membangun kraton di antara \/ ditengah-tengah dua kali\/sungai yaitu di lokasi Kraton Ngayogyakarta sekarang ini. Dan semua bahan bangunan yang dipakai untuk pembangunan kraton yang baru sebagian besar diambilkan dari Pesanggrahan Ambarketawang , yang konon memang dahulunya merupakan daerah perbukitan batu kapur. Saat ini daerah tersebut sudah rata menjadi daerah datar , hanya tertinggal sebagian kecil sisa bukit batu kapur yang disebut Gunung Gamping (&nbsp;<em>hingga saat ini dipakai untuk tempat prosesi Upacara Adat &nbsp;Saparan Bekakak Gamping&nbsp;<\/em>&nbsp;).<\/p>\n<p>Pada tanggal 7 Oktober 1756 karena pembangunan kraton yang baru sudah selesai , akhirnya Pangeran Mangkubumi pindah &ldquo;boyongan&rdquo; dari Pesanggrahan Ambarketawang ke Kraton Ngayogyakarta dan menjalankan pemerintahannya dari kraton yang baru dengan bergelar Sultan Hamengku Buwono I. (&nbsp;<em>tanggal 7 Oktober 1756 dijadikan hari jadi kota Yogyakarta<\/em>&nbsp;).<\/p>\n<p>Sepeninggalan Pangeran Mangkubumi \/ Sultan Hamengkubuwono I , Pesanggrahan Ambarketawang akhirnya diserahkan kepada abdi dalem Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto untuk merawatnya, yang akhirnya terjadi peristiwa &ldquo; hilangnya&nbsp; Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto &ldquo; tertimbun bebatuan di dalam gua dekat Pesanggrahan Ambarketawang. Setelah menerima laporan peristiwa tersebut, Sultan Hamengku Buwono memerintahkan untuk mengadakan upacara memperingati peristiwa &ldquo; hilangnya&nbsp; Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto &ldquo; , yang akhirnya hingga saat ini upacara tersebut dikenal dengan Upacara Adat Saparan Bekakak Gamping yang sudah menjadi agenda pariwisata tingkat nasional.<\/p>\n<p>Dan tanggal 9 Oktober 1755 ditetapkan menjadi hari Jadi Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.<\/p>\n<p>Pada tahun 1916&nbsp; masa Kasultanan Ngayogyakarta , di wilayah Ambarketawang&nbsp; terdapat 4 ( empat ) kalurahan yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Kalurahan Mejing (<em>Lama<\/em>)<\/li>\n<li>Kalurahan Gamping (<em>Lama<\/em>)<\/li>\n<li>&nbsp;Kalurahan Bodeh (<em>Lama<\/em>)<\/li>\n<li>&nbsp;Kalurahan Kalimanjung (<em>Lama<\/em>)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keempat kalurahan tersebut masuk dalam Kabupaten Sulaiman (yang saat ini disebut Sleman).<\/p>\n<p>Berdasarkan Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan pada tahun 1946, empat kalurahan tersebut digabung menjadi satu dengan nama&nbsp;<strong>Desa Ambarketawang<\/strong>&nbsp;hingga saat ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SEJARAH SINGKAT DESA AMBARKETAWANG Pada masa kerajaan Mataram dengan adanya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 antara Sinuwun Pakubuwono III , Pangeran Mangkubumi dan VOC\/Belanda , yang mengakibatkan Kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 kerajaan yaitu : Kasunanan Surakarta ( yang wilayahnya meliputi Kerajaan Mataram bagian timur ) diserahkan kepada Sinuwun Pakubuwono III . Kasultanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":363,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=362"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media\/363"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ambarketawangsid.slemankab.go.id\/home\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}